Eritromisin Susandy Oetama

May 9, 2019 | Author: Susandy Oetama | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download Eritromisin Susandy Oetama...

Description

Tugas Mandiri 

ERITROMISIN

Oleh: Susandy Oetama, S.Ked NIM. I1A008056

BAGIAN FARMAKOLOGI & TERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2012

DAFTAR ISI

Halaman Judul.......................................................... ............................................. ..... i Daftar Isi..................................................................................................................... ii BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................1 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................3

2.1. Makrolida................................................................................................3 2.2. Asal dan Kimia.......................................................................................4 2.3. Aktivitas Antimikroba............................................................................5 2.4. Spektrum Antimikroba............................................................................6 2.5. Farmakokinetik.......................................................................................6 2.6. Resistensi................................................................................................7 2.7. Interaksi Obat…………………………………………………………..8 2.8. Dosis dan Penggunaan Klinik……………………………………….....9 2.9. Bentuk Sediaan……………………………………………………......... 16 2.10.Efek Samping………………………… Samping……………………………………………………… …………………………… 16

BAB III. PENUTUP.................................................................................................

18 Daftar Pustaka

BAB I

PENDAHULUAN

Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi/jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotika saat ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh. Namun dalam prakteknya antibiotika sintetik tidak diturunkan dari produk mikroba (misalnya kuinolon). Antibiotika yang akan digunakan untuk membasmi mikroba,  penyebab infeksi pada manusia, harus mememiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya, antibiotika tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk  mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk manusia.1

Antibiotika adalah obat yang sangat ampuh dan sangat bermanfaat jika digunakan secara benar. Namun, jika digunakan tidak semestinya antibiotika justru akan mendatangkan berbagai mudharat. Yang harus selalu diingat, antibiotika hanya ampuh dan efektif membunuh bakteri tetapi tidak dapat membunuh virus.

Karena itu, penyakit yang dapat diobati dengan antibiotika adalah penyakit penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.1

Antibiotika golongan makrolid mempunyai persamaan yaitu terdapatnya cincin lakton yang besar dalam rumus molekulnya. Dalam kelompok ini termasuk   juga spiramisin, roksitromisin, klaritromisin dan azitromisin.2

Eritromisin

dihasilkan

oleh

Streptomyces

erythreus

(Filipina,1952).

Eritromisin diuraikan oleh asam lambung, maka harus diberikan dalam sediaan enteric coated (dengan selaput tahan asam) atau sebagai garam atau esternya (stearat dan etilsuksinat).3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Makrolida

Makrolida merupakan kelompok antibiotik yang berhubungan dengan erat, kebanyakan diproduksi dari Streptomyces. Makrolida bersifat terapeutik yang  paling penting memiliki karakteristik yang terdiri dari cincin lakton beranggotakan 14, 15, atau 16 gugus. Eritromisin merupakan gabungan komponen eritromisin A dengan zat aktif makrolidanya berupa cincin lakton dengan 14 gugus. Eritromisin merupakan antibiotik golongan makrolida pertama yang digunakan dalam praktek  dokter pada tahun 1952. Makrolida dengan 14 gugus cincin lakton (termasuk  eritromisin, klaritromisin, dan roksitromisin), 15 gugus cincin lakton (azitromisin) dan makrolida dengan 16 gugus cincin lakton memiliki aktivitas antibiotik dengan spektrum luas, menghambat bakteri Gram positif dan Gram negatif. Pada akhirnya, eritromisin A (serta makrolida yang lebih baru seperti klaritromisin, roksitromisin, dan azitromisin) banyak digunakan sebagai pengganti utama penisilin dan sefalosporin di banyak negara untuk mengobati penyakit infeksi, terutama yang disebabkan oleh Streptococci β-haemolyticus dan Pneumococci.Hawkyard Aktivitas antimikroba golongan makrolid secara umum meliputi kokus Gram positif seperti Staphylococcus aureus, Staphylococci koagulase negatif, Streptococci β-hemolitik dan Streptococcus spp,  H. Influenzae,  Neisseria spp,  Bordetella spp, Corynebacterium spp, Chlamydia, Mycoplasma,  Rickettsia dan  Legionella spp. Azitromisin memiliki aktivitas yang lebih poten terhadap bakteri

Gram negatif, volume distribusi yang lebih luas serta waktu paruh yang lebih  panjang.4 Klaritromisin berbeda dari eritromisin hanya dari metilasi pada kelompok  hidroksil di 6 lokasi,sementara azitromisin memiliki tambahan atom nitrogen  pengganti metil pada cincin lakton. Modifikasi struktural tersebut meningkatkan stabilitas terhadap asam dan penetrasi jaringan serta memperluas aktivitas antibiotik terhadap spektrum bakteri. Klaritromisin memiliki fitur farmakokinetika yang meningkat (waktu paruh plasma lebih panjang, penetrasi ke jaringan lebih  besar) serta peningkatan aktivitas terhadap H. Influenzae, Legionella pneumophila. Sedangkan roksitromisin memiliki aktivitas setara dengan eritromisin, namun profil farmakokinetiknya mengalami peningkatan sehingga lebih dipilih untuk infeksi saluran pernapasan. Hampir semua komponen baru golongan makrolid memiliki tolerabilitas, profil keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan eritromisin. Lebih jauh lagi derivat baru tersebut bisa diberikan satu atau dua kali sehari, sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien.Goodman&Gillman, 4

2.2. Asal dan Kimia

Eritromisin dihasilkan oleh strain Streptomyces erythreus. Struktur kimia eritromisin dapat dilihat pada gambar 2.1. Zat ini berupa kristal berwarna kekuningan, larut dalam air sebanyak 2 mg/mL. Eritromisin larut lebih baik dalam etanol atau pelarut organik.2

Gambar 2.1. Eritromisin Antibiotik ini tidak stabil dalam suasana asam, kurang stabil pada suhu kamar tetapi cukup stabil pada suhu rendah. Aktivitas in vitro paling besar dalam suasana alkalis. Larutan netral eritromisin yang disimpan pada suhu kamar akan menurunkan potensinya dalam beberapa hari, tetapi apabila disimpan pada suhu 5oC biasanya akan tahan sampai beberapa minggu. Berat molekul eritromisin 734. Eritromisin biasanya dijual dalam berbagai bentuk ester dan garam.2,5

2.3. Aktivitas Antimikroba, Anti-inflamasi, dan Prokinetik 

Eritromisin efektif terhadap organism Gram positif, terutama pneumokokus, streptokokus, stafilokokus, dan korinebakterium pada konsentrasi plasma 0,02-2 µg/mL.  Mycoplasma,  Legionella, Chlamydia trachomatis,  Helicobacter , dan

mikrobakteri tertentu ( Mycobacterium kansasi, Mycobacterium scrofulaceum) juga  peka terhadap eritromisin.5 Eritromisin A menghambat pembentukan subunit 50S dan sintesis protein yang tergantung pada RNA pada bakteri di tahap elongasi rantai dengan berikatan secara reversibel terhadap subunit ribosom 50S dan menghalangi reaksi transpeptidase atau translokasi. Eritromisin juga dapat menghambat translasi messenger  RNA (mRNA) pada tingkat 23S rRNA (sebagian besar berinteraksi dengan domain V dari 6 domain lainnya yaitu domain I-VI) dan protein ribosomal L4 dan L22 yang merupakan bagian dari subunt 50S. Eritromisin A dapat berbagi reseptor dengan makrolida lainnya dan antibiotik lainnya, mengganggu proses ikatan obat-obatan tersebut dengan ribosom. Makrolida biasanya menghambat sintesis protein dengan berikatan pada titik keluar terowongan dari ribosom dimana  peptida yang sedang berevolusi dibentuk terutama oleh 23S rRNA. Terowongan ini merupakan komponen struktural dinamis dimana terjadi interaksi antara peptida yang sedang berevolusi dan ribosom. Interaksi ini mempengaruhi kemajuan sintesis serta aktivitas ribosomal peptidil transferase. Protein ribosomal L4 dan L22 membentuk titik konstriksi dari terowongan keluar ini. Makrolida berikatan sangat dekat dengan titik konstriksi ini sehingga menghalangi pintu keluar terowongan tersebut. Tampaknya lokasi spesifik dari inhibisi sintesis protein tergantung pada sekuens asam amino dari peptida yang berevolusi. Hawkyard Gambar di bawah menunjukkan mekanisme kerja eritromisin:

Gambar 2. Mekanisme Kerja EritromisinLullmann

Meskipun

makrolida

telah

digunakan

terutama

karena

aktivitas

antimikrobialnya selama 50 tahun terakhir ini, penggunaan yang lebih jarang didengar selama 2-3 dekade belakangan ini semakin sering dilakukan, baik dalam  penelitian maupun praktek klinik. Pada awal tahun 1980, ditemukan bahwa  pengobatan kronis dengan eritromisin menimbulkan peningkatan 5 year survival  rate yang dramatis pada pasien yang menderita penyakit radang paru menahun,  panbronkiolitis difus. Sebelum penemuan ini, 5 year survival rate pasien  panbronkiolitis difus hanya sebesar 63%, yang menurun sampai 8% ketika penyakit tersebut berkembang sampai pada kolonisasi  Pseudomonas aeruginosa. Ketika  penggunaan eritromisin dalam terapi panbronkiolitis berat mulai dikenal, maka saat itu menjadi kebiasaan untuk memberikan eritromisin tiap harinya dalam jangka waktu yang lama. Hasilnya terjadi peningkatan 5 year survival rate hingga mencapai angka 92%.Amsden Studi dengan binatang menunjukkan bahwa pemberian eritromisin dalam  jangka waktu yang lama menurunkan produksi mukus yang berbanding lurus

dengan dosis eritromisin. Hal ini terjadi karena ikatan sekunder makrolida terhadap kanal klorida sel epitel, sehingga menghambat kanal tersebut. Selain itu juga terjadi  penghambatan sekresi air yang bergerak bersamaan dengan ion klorida melintasi membran sel. Blokade ini menghasilkan penurunan hipersekresi saat diberikan makrolida jangka panjang yaitu selama 8 minggu.Amsden, Crosbie Apabila diberikan dalam jangka waktu lama dengan dosis yang rendah, makrolida mampu menekan kelebihan neutrofil yang ada di dalam paru. Hal ini terjadi karena pengurangan kemotaksis neutrofil ke paru dengan menurunkan sitokin yang bertanggung jawab (misalnya interleukin-8). Selain itu makrolida mampu menghambat produksi oksidan, mempromosikan degranulasi sel neutrofil in vitro dan ex vivo, mengurangi fagositosis sel neutrofil ex vivo, serta meningkatkan migrasi sel neutrofil pada individu yang sehat dan pasien yang menderita abnormalitas kemotaksis sel neutrofil persisten.Amsden, Schultz Makrolida menekan produksi IL-6 dan IL-8 melalui sel epitel bronkial yang distimulasi oleh IL-1. Melalui proses yang sama, eritromisin menekan produksi IL8 pada sel neutrofil manusia secara in vitro. Eritromisin pada dosis tertentu mampu menghambat produksi tumor necrosis factor α (TNF-α), IL-6, IL-8, dan IL-10 pada darah yang mengandung Streptococcus pneumoniae atau Pseudomonas aeruginosa. Pada studi dengan lipopolisakarida, makrolida mempengaruhi produksi sitokin melalui sel epitel bronkial atau sel mononuklear.Schultz

Eritromisin A dan makrolida dengan 14 gugus cincin lakton lainnya mempunyai efek stimulasi motilitas gastrointestinal, hal ini sudah diketahui selama kurang lebih 20 tahun, dimana mereka bekerja sebagai agonis reseptor motilin di dalam usus dan kandung empedu yang merangsang saraf enterik dan memicu fase migrasi kompleks mioelektrik.Efek motorik antral dari eritromisin A pada manusia diperantarai oleh berbagai jalur. Induksi aktivitas prematur diperantarai oleh aktivasi jalur kolinergik intrinsik, sementara induksi aktivitas kontraktil antral yang diperkuat mungkin diperantarai oleh jalur yang kemungkinan besar melibatkan aktivasi reseptor muskuler. Dosis 40 mg eritromisin A menimbulkan kompleks fase 3 prematur yang dimulai dari lambung sampai ke usus halus, sementara dosis 200 mg dan 350 mg eritromisin A menimbulkan letupan kontraksi yang menyerupai kontraksi antral fase 3 yang tidak bergerak ke usus halus, namun diikuti oleh  pemanjangan periode aktivitas kontraktil antral.Hawkyard Bukti penggunaan makrolida seperti eritromisin A sebagai terapi lini  pertama pada kondisi non-septik seperti dismotilitas gastrointestinal pada populasi tergolong lemah. Faktanya, American Society for Parenteral and Enteral Nutririon (ASPEN) menyatakan secara eksplisit bahwa karena masalah kemunculan resistensi bakterial, hanya metoklopramid yang boleh digunakan. Dalam guideline terbarunya, European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN)  bahkan lebih jauh lagi merekomendasikan agar sama sekali tidak menggunakan eritromisin A atau agen prokinetik lainnya.Hawkyard

2.4. Spektrum Antimikroba

 In vitro, efek terbesar eritromisin terhadap kokus gram positif, seperti S.pyogenes dan S.pneumonia. S.viridans mempunyai kepekaan yang bervariasi terhadap eritromisin. S.aureus hanya sebagian yang peka terhadap obat ini. Strain S.aureus yang resisten terhadap eritromisin sering dijumpai di rumah sakit (strain nosokomial).2 Batang gram positif yang peka terhadap eritromisin ialah C.perfringens, C.diphtheriae, dan  L.monocytogenes. Eritromisin tidak aktif terhadap kebanyakan kuman gram negatif, namun ada beberapa spesies yang sangat peka terhadap eritromisin yaitu N.gonorrhoeae, Campylobacter jejuni, M.pneumoniae, Legionella  pneumophila, dan C.trachomatis,  H.influenzae mempunyai kepekaan yang  bervariasi terhadap obat ini.2

2.5. Farmakokinetik 

Absorpsi eritromisin

bervariasi,

distribusi ke seluruh

tubuh

baik,

dimetabolisme dalam hati menjadi inaktif melalui N-demetilasi dengan waktu eliminasi serum 1,4 jam. Makrolid merupakan antimikroba yang relatif paling aman meskipun masih memiliki efek samping ringan seperti mual, muntah dan

diane yang bergantung dosis. Efek samping serius yang penting adalah hepatotoksisitas (khususnya derivat estolat) yang biasanya bersifat idiosinkrasi atau lewat peka.3 Eritromisin basa dirusak oleh asam lambung dan harus diberikan dalam  bentuk  enteric coating . Bentuk stearat dan ester agak tahan asam dan relatif  diabsorpsi dengan baik. Makanan yang pada akhirnya akan merangsang asam lambung bisa menyebabkan penundaan absorpsi. Konsentrasi serum puncak adalah 0,3-0,5 µg/mL, dicapai dalam 4 jam setelah pemberia per oral eritromisin 250 mg dalam bentuk basa, dan 0,3-1,9 µg/mL setelah dosis tunggal eritromisin 500 mg. Garam laurel dan ester propionil dari eritromisin (eritromisin estolat) merupakan salah satu preparat per oral yang diabsorpsi paling baik.Goodman&Gillman, 5 Eritromisin berdifusi ke dalam cairan intraseluler, mencapai aktivitas antibakterial pada seluruh tempat kecuali di otak dan cairan serebrospinal. Eritromisin mampu masuk ke dalam cairan prostetik, mencapai konsentrasi sekitar  40% dari konsentrasi plasma. Konsentrasi pada eksudat telinga tengah hanya mencapai 50% dari konsentrasi serum sehingga mungkin inadekuat untuk terapi otitis media yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae. Ikatan dengan protein sekitar 70-80% pada eritromisin basa dan lebih tinggi lagi sekitar 96% untuk  eritromisin estolat. Eritromisin mampu melewati plasenta, dimana konsentrasi obat  pada plasma janin sekitar 5-20% dari konsentrasi obat di plasma sirkulasi maternal. Konsentrasi di dalam air susu sekitar 50% dibandingkan dengan konsentrasi pada serum.Goodman&Gillman

Hanya sekitar 2-5% eritromisin per oral diekskresikan dalam bentuk  aktifnya di dalam urin. Angka ini akan meningkat menjadi 12-15% apabila eritromisin diberikan secara intravena. Antibiotik ini dikonsentrasikan di hepar dan diekskresikan di dalam empedu, yang mengandung sekitar 250 µg/mL apabila konsentrasi serum sangat tinggi. Waktu paruh eliminasi serum eritromisin diperkirakan sekitar 1,6 jam. Meskipun waktu paruh dapat meningkat pada pasien anuria, pengurangan dosis tidak rutin disarankan pada pasien gagal ginjal. Obat ini  juga tidak bisa dibuang secara signifikan melalui prosedur hemodialisis atau dialisis peritoneal. Sebagian obat diekskresikan ke dalam empedu diabsorpsi kembali dari usus halus. Beberapa makrolid yang lebih baru (misalnya azitromisin dan klaritromisin) mempunyai aktivitas per oral yang lebih baik dibandingkan ester  eritromisin dan sebagai tambahan, mempunyai waktu paruh yang lebih panjang dibandingkan dengan eritromisin.Goodman&Gillman, 5

2.6. Resistensi

Dalam waktu singkat setelah penggunaan pertamanya pada1952, ditemukan resistensi terhadap eritromisin. Fenomena ini pertama kali diamati pada Staphylococcus

aureus

dan

muncul

istilah

fenotip

makrolid-linkosamid-

streptogramin B (MLSB) resisten antibiotik. Resistensi ini diduga karena paparan terhadap

eritromisin

dosis

rendah

yang

menimbulkan

ekspresi

enzim

metiltransferase (ErmC). ErmC menimbulkan metilasi pada 23S rRNA pada titik 

 N-6 dari adenosin 2058 (A2058) yang merupakan nukleotid penting dalam proses  pengikatan antibiotik MLSB.Vester  Secara umum resistensi terhadap eritromisin dan golongan makrolida lainnya terjadi karena beberapa hal:Gibreel, Belanger, Lecrercq 1.

Resistensi akibat modifikasi target Modifikasi target dapat dimediasi oleh rRNA metilase. Terjadi perubahan residu adenin pada posisi 2058, 2059, 2074, atau 2075 dari 23S rRNA nenjadi  N6-monometil-adenin atau N6,N6-dimetiladenin. Akibat proses metilasi ini, ikatan eritromisin pada targetnya mengalami gangguan. Selain itu, modifikasi dapat juga dimediasi oleh mutasi titik spesifik pada 23S rRNA. Titik spesifik ini terletak di dalam daerah peptidil-transferase di domain V dari 23S rRNA. Beberapa resistensi yang lebih ringan pada golongan makrolida lainnya berhubungan dengan mutasi pada nukleotida 752 atau titik yang berada di dekatnya. Modifikasi target juga dapat dimediasi karena perubahan pada protein ribosomal 50S. Resistensi makrolida dapat terjadi karena perubahan subunit  protein ribosomal 50S L4 dan L22. Mekanisme resistensi ini telah diamati pada isolat laboratorium dan isolat klinik dari Streptococcus pneumoniae.

2.

Resistensi akibat inaktivasi enzimatik  Enzim yang menginaktivasi makrolida telah berhasil dideteksi pada praktek  klinik, termasuk enzim yang memodifikasi makrolida melalui proses fosforilasi atau glikosilasi 2’OH di dalam moietas desosamin. Resistensi tingkat tinggi

terhadap eritromisin pada keluarga Enterobacteriaceae diakibatkan 2 tipe enzim penginaktivasi makrolida: eritromisin esterase (EreA dan EreB) dan makrolida 2’-fosfotransferase.

3. Resistensi akibat peningkatan efluks makrolida Pada bakteri Gram negatif, pompa efluks yang dikode oleh kromosom  berperan dalam resistensi intrinsik terhadap berbagai agen antimikroba termasuk golongan makrolida. Pompa-pompa tersebut seringkali berasal dari keluarga resistance nodulation cell division (RND). Pada organisme Gram  positif, terdapat 2 kelas pompa efluks yang berperan dalam resistensi terhadap makrolida: anggota superfamili  ATP-binding-cassette (ABC) transporter dan major facilitator superfamily (MFS).

2.7. Interaksi Obat

Pemberian terfenadin dan astemizol dosis terapi bersama antibiotik  golongan

makrolid

seperti

eritromisin

dapat

mengakibatkan

terjadinya

 perpanjangan interval QT dan mencetuskan terjadinya aritmia ventrikel (torsades de pointes) yang mungkin fatal. Keadaan ini disebabkan karena makrolida menghambat metabolisme terfenadin atau astemizol oleh enzim CYP3A4 sehingga terjadi peningkatan kadar antihistamin di dalam darah. Karena interaksi yang  berbahaya

tersebut

maka

terfenadin

dan

astemizol

dikontraindikasikan

 pemberiannya pada pasien yang juga mendapat terapi antibiotik golongan makrolid, dan juga pada pasien dengan penyakit hati. Eritromisin juga dapat berinteraksi dengan

beberapa

antibiotik

golongan

kuinolon

dan

mempengaruhi

farmakodinamiknya.2, David RP Guay Berkurangnya

keasaman

lambung

oleh

antasid

akan

mengurangi

 pengrusakan obat yang tidak tahan asam (misalnya penisilin G, eritromisin) sehingga meningkatkan bioavailabilitasnya. Pemberian penisilin bersama dengan eritromisin dapat menimbulkan antagonisme, sinergisme, atau tanpa efek terhadap aktivitas antibakterial penisilin.2, MM Neuhauser and LH Danziger 

2.8. Dosis dan Penggunaan Klinik 

Eritromisin merupakan obat pilihan utama untuk infeksi korionebakteri (difteri, sepsis karena korionebakteri,eritrasma); infeksi klamidia pada saluran  pernapasan, neonatus, mata, atau genetalia; dan pada pneumonia yang disebabkan oleh Mycoplasma dan Legionella. Klaritromisin dan azitromisin telah efektif dalam menekan

infeksi  Mycobacterium

avium-intracellulare pada

pasien

AIDS.

Sebaliknya, eritromisin merupakan obat pengganti penisilin yang paling berguna  bagi individu yang mengalami infeksi streptokokus dan pneumokokus yang hipersensitif terhadap penisilin. Pada pasien rematik yang menggunakan penisilin untuk pencegahan, harus diberikan eritromisin sebelum tindakan dokter gigi sebagai profilaksis terhadap endokarditis. Walaupun eritromisin estolat merupakan

garam yang diabsorpsi paling baik, namun dapat menimbulkan risiko besar pada efek samping. Karena itu, garam stearat dan suksinat dapat dipilih. Eritromisin dapat meningkatkan motilitas gastrointestinal pada pasien diabetes dengan paresis lambung.5 Beberapa antibiotik parenteral yang telah digunakan sejak lama pada  pengobatan akne vulgaris telah menunjukkan bahwa obat tersebut juga efektif bila digunakan secara topikal. Ada 4 macam antibiotik yang digunakan akhir-akhir ini adalah

klindamisin fosfat, eritromisin basa, metronidazol,

dan tetrasiklin

hidroklorida. Efektivitas terapi antibiotik topikal kurang bila dibandingkan yang dicapai oleh pemberian sistemik dengan antibiotik sama. Karena itu, terapi topikal  biasanya lebih baik digunakan pada inflamasi akne ringan-sedang.5 Pemberian secara oral untuk dewasa 2-4 kali sehari dengan dosis 250-500 mg pada saat perut kosong, untuk anak-anak 20-40 mg/kgBB/hari selama maksimal 7 hari. Dosis minimal untuk dewasa 200 mg dan dosis maksimal 4000 mg. Dosis minimal untuk anak-anak 10 mg dan dosis maksimal 50 mg.6,7 Pemberian secara intravena untuk dewasa 0,5 gram eritromisin gluseptat atau laktobionat setiap 8-12 jam. Dosis untuk anak-anak yaitu 40 mg/kg/hari.5 Tabel 2.1. Dosis Umum dengan Indikasi Penggunaan7  Nomor Penyakit 1 Acne Vulgaris

2

Sinusitis Bakteri Akut

Dosis Pemberian oral : 1 tablet (250 mg) setiap 6 jam Pemberian oral : 2 tablet (500 mg)

setiap 12 jam, 1 tablet (250 mg) setiap 6 jam, 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam, 1 tablet (500 mg) setiap 12 jam, 1 tablet (500 mg)

3

Infeksi Otitis Media Akut

setiap 6 jam Pemberian oral : 1 tablet (500 mg) 4x/hari, 1 tablet (500 mg) setiap 6  jam, 1 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 10 hari, 1 tablet (500 mg)

4

Pneumonia Bakterial

4x/hari selama 10 hari Pemberian oral : 2 tablet (500 mg) setiap 12 jam, 1 tablet (250 mg) setiap 6 jam, 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam, 1 tablet (500 mg) setiap 12 jam, 1 tablet (500 mg)

5

Dipteria

setiap 6 jam Pemberian oral : 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam, 2 tablet (500 mg)

6

Pencegahan Difteria

setiap 6 jam selama 10 hari Pemberian oral : 2 tablet (500 mg) 2x/hari selama 10 hari, 2 tablet (500 mg) setiap 12 jam selama 10 hari, 2 tablet (500 mg) 2x/hari, 2 tablet (500 mg) setiap 12 jam, 2

tablet (500 mg) setiap 12 jam selama 7 hari, 2 tablet (500 mg) 2x/hari selama 7 hari, 1 tablet (500 mg) 2x/hari selama 10 hari, 1 tablet (500 mg) setiap 12 jam selama 10 hari, 1 tablet (500 mg) 2x/hari, 1 tablet (500 mg) setiap 12 jam, 1 tablet (500 mg) setiap 12  jam selama 7 hari, 1 tablet (500

7

Ektema

mg) 2x/hari selama 7 hari Pemberian oral : 1 tablet (500 mg) 2x/hari selama 10 hari, 1 tablet

8

Campylobakteriosis enteric

(500 mg) 2x/hari Pemberian oral : 2 tablet (500 mg) 4x/hari, 2 tablet (500 mg) setiap 6  jam, 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 7 hari, 2 tablet (500 mg)

9

10

11

Erisipelas

4x/hari selama 7 hari Pemberian oral : 1 tablet (500 mg)

Erythrasma

setiap 6 jam selama 7 hari Pemberian oral : 1 tablet (250 mg)

Penyakit Legionnaires

3x/hari Pemberian oral : 2 tablet (500 mg) 4x/hari selama 14 hari, 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 14

hari, 1 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 10 hari, 1 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 14 hari, 2 tablet (1000 mg) setiap 6 jam, 1 tablet (500 mg) 4x/hari selama 14 hari, 1 tablet (500 mg) 4x/hari selama 10 hari, 2 tablet (1000 mg) setiap 6 jam selama 10 hari, 2 tablet (1000 mg) setiap 6 jam selama 14 hari, 2 tablet (1000 mg) 4x/hari selama 10 hari, 2 tablet

12

Listeriosis

(1000 mg) 4x/hari selama 14 hari Pemberian oral : 2 tablet (500 mg) setiap 12 jam, 1 tablet (250 mg)

13

Pneumonia Mycoplasma

setiap 6 jam Pemberian oral : 2 tablet (500 mg) 4x/hari, 2 tablet (500 mg) setiap 6  jam, 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 10 hari, 2 tablet (500 mg) 4x/hari selama 21 hari, 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 5 hari, 2 tablet (500 mg) 4x/hari selama 10 hari, 2 tablet (500 mg)

setiap 6 jam selama 21 hari, 2 tablet (500 mg) 4x/hari selama 5

14

Pertusis

hari Pemberian oral : 2 tablet (500 mg) 4x/hari, 1 tablet (250 mg) setiap 6  jam, 2 tablet (500 mg) setiap 6  jam, 1 tablet (250 mg) setiap 6 jam selama 10 hari, 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 10 hari, 2 tablet (500 mg) 4x/hari selama 10

15

16

Pneumonia Pneumococcal

hari Pemberian oral : 1 tablet (250 mg)

Pencegahan Demam Reumatik

4x/hari, 2 tablet (500 mg) 4x/hari Pemberian oral : 1 tablet (250 mg) 2x/hari, 1 tablet (500 mg) 2x/hari selama 10 hari, 1 tablet (500 mg) setiap 12 jam selama 10 hari, 1 tablet (500 mg) 2x/hari, 1 tablet

17

Infeksi Staphylococcus Aureus dan

setiap 12 jam Pemberian oral : 2 tablet (500 mg)

Infeksi struktur kulit

setiap 12 jam, 1 tablet (250 mg) setiap 6 jam, 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam, 1 tablet (500 mg) setiap 12 jam, 1 tablet (500 mg)

18

Sifilis

setiap 6 jam Pemberian oral : 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 10 hari, 2 tablet (500 mg) 4x/hari selama 10 hari, 2 tablet (500 mg) 4x/hari selama 15 hari, 2 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 15 hari, 1 tablet (500 mg) 4x/hari, 2 tablet (1000 mg) 4x/hari, 1 tablet (500 mg) setiap 6 jam, 1 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 10 hari, 2 tablet (1000 mg) setiap 6 jam, 1 tablet (500 mg) 4x/hari selama 10 hari, 2 tablet (1000 mg) setiap 6  jam selama 10 hari, 2 tablet (1000 mg) 4x/hari selama 10 hari, 1 tablet (500 mg) setiap 6 jam selama 15 hari, 1 tablet (500 mg) 4x/hari selama 15 hari

2.9. BENTUK SEDIAAN

Eritromisin tersedia dalam sediaan solusio, gel,  pledgets dan salep 1,5 %2% sebagai bahan tunggal. Juga tersedia dalam sediaan kombinasi dengan benzoil  peroksida, yang dapat menghambat resistensi antibiotika terhadap eritromisin. Kombinasi zinc asetat 1,2% dengan eritromisin 4% lebih efektif daripada dengan klindamisin. Pada acne mengandung lotion 2% dan propilenglikol dalam alkohol dilute ( Eryderm, Abbott ).6,8

2.10. EFEK SAMPING

Efek samping yang ditimbulkan oleh eritromisin pada gastrointestinal yaitu anoreksia, mual dan muntah. Pada pemberian oral kadang-kadang disertai dengan diare.5 Efek samping lain yang ditimbulkan oleh eritromisin adalah toksisitas hati, terutama eritromisin estolat dapat menimbulkan hepatitis kolestatik akut (demam, ikterus, gangguan fungsi hati), mungkin sebagai reaksi hipersensitif. Kebanyakan  pasien pulih dari gangguan ini, tetapi hepatitis terjadi lagi bila obat ini diberikan. Reaksi alergi lain termasuk demam, eosinofilia, dan rashes. Eritromisin dapat menghambat

sitokrom

P450

dan

dengan

demikian

meningkatkan

efek 

antikoagulanoral dan digoksin oral. Juga meningkatkan konsentrasi siklosporin dan antihistamin

seperti

terfenadin

dan

astemizol.

antihistamin ini dapat menyebabkan aritmia jantung.5

Akibat

konsentrasi

tinggi

BAB III PENUTUP

Eritromisin merupakan prototipe golongan ini sejak ditemukan pertama kali tahun 1952. Komponen lain golongan makrolida merupakan derivat sintetik dari eritromisin yang struktur tambahannya bervariasi antara 14-16 cincin lakton. Derivat makrolida tersebut terdiri dari spiramysin, midekamisin, roksitromisin, azitromisin dan klaritromisin. Eritromisin efektif terhadap organism gram positif, terutama pneumokokus, streptokokus, stafilokokus, dan korinebakteri, pada konsentrasi plasma 0,02-2 ug/mL. Batang gram positif yang peka terhadap eritromisin ialah C.perfringens, C.diphtheriae, dan  L.monocytogenes. Eritromisin tidak aktif terhadap kebanyakan kuman gram negatif, namun ada beberapa spesies yang sangat peka terhadap eritromisin yaitu N.gonorrhoeae, Campylobacter jejuni, M.pneumoniae, Legionella  pneumophila, dan C.trachomatis,  H.influenzae mempunyai kepekaan yang  bervariasi terhadap obat ini

DAFTAR PUSTAKA

1.

Anonymous. Antibiotik. (online) (www.Medicastore.com / diakses 13 September 2009)

2. Syarif, A, Ari E, Armen M et al. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Uneversitas Indonesia. Jakarta : 2007;723,281,864

3.

Herman, MJ. Bakteri, klamidia dan mikoplasma pada penyakit hubungan seksual; farmakologi dan terapi obat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No. 117:1997;25

4.

Umar F, Elly Z, Ratna N et al. Pharmaceutical care untuk penyakit infeksi saluran pernapasan. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan klinik  direktorat jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI : 2005

5. Katzung, BG. Farmakologi dasar dan klinik. Edisi VI. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta : 1998; 704-705, 770-771, 972

6. Tjay, TH & Kirana R. Obat-obat penting ; khasiat, penggunaan, dan efekefek sampingnya. Edisi 6. PT. Gramedia. Jakarta : 2007;82

7.

Anonymous. Erythromycin oral : dosage and (www.eMedicine.com / diakses 13 September 2009)

uses

.

(online)

8. Ulfa, F & M. Yulianto L. Toksis epidermal nekrolisis pada penderita dengan psoriasis vulgaris. Departement of Dermato-Veneorology Faculty of  Medicine University of Airlangga dr. Soetomo Hospital Surabaya. 5 Desember 2009

View more...

Comments

Copyright ©2017 itdaklak.info Inc.
SUPPORT itdaklak.info