makalah perkembangan sosial

May 12, 2019 | Author: Biondy Alvian Siburian | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download makalah perkembangan sosial...

Description

Mkalah Perkembangan sosial

A. LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang mereka jalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembanmgan berarti serangkaian p erubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengal aman. Menurut keyakinan tradisional sebagian manusia dilahirkan dengan sifat sos ial dan sebagian lagi tidak. Orang yang lebih banyak merenungi diri dan lebih su ka menyendiri daripada bersama-sama dengan orang lain atau introvert, secara ala miah memang sudah bersifat demikian. Mereka yang bersifat sosial dan pikirannya lebih banyak tertuju pada pada hal-hal diluar dirinya atau ekstrovert, juga suda h bersikap seperti itu karena alamiah yaitu faktor keturunan. Sedangkan orang ya ng menentang masyarakat yaitu orang yang antisosial, dan orang yang biasanya men jadi penjahat, diyakini oleh masyarakat tradisional sebagai warisan dari pada sa lah satu sifat buruk yang dimiliki oleh orang tuanya. Hanya sedikit bukti yang menenjukan bahwa orang dilahirkan dalam keadaan sudah b ersifat sosial, tidak sosial dan antisosial, dan banyak bukti sebaliknya yang me nunjukan bahwa mereka bersifat demikian karena hasil belajar. Akan tetapi, belaj ar menjadi pribadi yang sosial tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Anak-ana k akan belajar searah dengan daur (siklus), dengan periode kemajuan yang pesat d iikuti oleh garis mendatar (plateau). Pada garis mendatar ini hanya terdapat sed ikit kemajuan dalam diri anak. Periode kemajuan yang pesat bahkan kadang-kadang diikuti oleh tahap kemunduran ketingkat perilaku sosial yang rendah. Seberapa ce pat anak dapat meningkat kembali dari garis mendatar itu sebagian besar bergantu ng pada kuat lemahnya motivasi mereka untuk bermasyarakat. Ketika berakhirnya masa kanak-kanak, sebagian besar anak masih sangat kurang mer asa puas dengan kemajuan yang mereka peroleh dalam segi perkembangan sosial. Hal ini benar sekalipun perkembangan mereka normal. Sejumlah studi tentang sumber k etidak bahagiaan yang dilaporkan oleh para remaja, banyak memberikan perhatian t erhadap masalah sosial. Seperti dalam hal kemampuan bergaul, cara memperlakukan teman agar terhindar dari pertengkaran dan putusnya persahabatan, cara bersikap yang luwes dalam situasi sosial, dan cara mengembangkan kemampuan memimpin. Dan para remaja menganggap bahwa mereka belum menguasai dan memiliki kemampuan yang cukup dalam hal-hal tersebut. B. RUMUSAN MASALAH Adapun pembahasan yang akan dibahas dalam makalah perkembangan sosial ini dianta ranya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Apakah esensi (definisi) perkembangan sosial? Bagaimana karakteristik teori yang terdapat pada perkembangan sosial? Bagaimana bentuk  bentuk tingkah laku sosial pada anak ? Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial seorang anak? Adakah hazard dalam proses perkembangan sosial anak! Bagaimana pengaruh perkembangan sosial terhadap tingkah laku anak? Bagaimana cara mengoptimalkan kemampuan perkembangan sosial seorang anak?

C. BATASAN MASALAH Dalam makalah ini, permasalahan yang dibahas hanya seputar perkembangan anak dal am aspek sosial. Adapun pembahasannya dibatasi pada perkembangan sosial dan peny esuaian sosial yang terjadi pada masa anak-anak.

D. TUJUAN PENULISAN Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas matakuliah Psikologi Perkemba ngan. Selain itu tujuan penulisan makalah ini juga sebagai bahan belajar bagi ki ta untuk lebih mengenal tentang perkembangan sosial pada masa anak-anak, seperti : 1. Memahami hakikat dari perkembangan sosial anak. 2. Mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial ana k. 3. Menemukan hazard-hazard yang terjadi dalam proses perkembangan sosial. 4. Dan dapat memahami tentan cara pengoptimalan kemampuan perkembangan sosial seorang anak. E. PENDEKATAN PENULISAN Adapun pendekatan yang dilakukan dalam penulisan makalah perkembangan sosial ini yaitu dengan cara pengumpulan data dari berbagai sumber buku dan dari beberapa sumber yang diambil dari hasil searching melaui internet. Makalah ini terdiri da ri empat bagian, yitu pendahuluan yang meliputi; latar belakang, rumusan masalah , batasan masalah, tujuan penulisan, dan pendekatan penlisan. Isi yang meliputi, definisi, karakteristik teori, esensi sosialisasi, bentuk tingkah lahu sosial, faktor yang mempengaruhu perkembangan, hazard, pola perilaku serta pengoptimalan perkembangan sosial anak. Pada bagian selanjutnya akan berisi tentang analisis kasus. Dan pada bagian terakhir akan dibahas tentang kesimpulan dan saran serta daftar pustaka. BAB II PERKEMBANGAN SOSIAL A. DEFINISI PERKEMBANGAN SOSIAL Menurut Hurlock perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial dengan berprilaku yang dapat diterima secara sosia l, memenuhi tuntutan yang diberikan oleh kelompok sosial, dan memiliki sikap yan g positif terhadap kelompok sosialnya. Syamsu Yusuf (2007) menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian ke matangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan ke rja sama. B. KARAKTERISTIK TEORI Menurut Erik H. Erikson (1963), perkembangan sosial terbagi menjadi beberapa tah apan yaitu : a. Infancy (0-1 tahun) ? Trust VS Mistrust b. Early childhood (1-3 tahun) ? Autonomy VS Shame, doubt c. Preschool age (3-6 tahun) ? Inisiative VS Guilt d. School age (6-12 tahun) ? Industry VS Inveriority e. Adolescence (12-20 tahun) ? Identity VS Identity confusion f. Young adulthood (20-30 tahun) ? Intimacy VS Isolation

g. adulthood (30-65 tahun ) ? Generativy VS Stagnation h. Senescence (>65 tahun)? Ego integrity VS Despair C. ESENSI SOSIALISASI Sikap anak-anak terhadap orang lain dalam bergaul sebagian besar akan sangat ter gantung pada pengalaman belajarnya selama tahun-tahun awal kehidupan, yang merup akan masa pembentukan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Maka ada empat faktor yang mempengaruhinya : Pertama, kesempatan yang penuh untuk bersosialisasi adalah penting bagi anak-ana k, karena ia tidak dapat belajar hidup bersosialisasi jika kesempatan tidak diop timalkan. Tahun demi tahun mereka semakin membutuhkan ksempatan untuk bergaul de ngan banyak orang, jadi tidak hanya dengan anak yang umur dan tingkat perkembang annya sama, tetapi juga dengan orang dewasa yang umur dan lingkungannya yang ber beda. Kedua, dalam keadaan bersama, anak tidak hanya harus mampu berkomunikasi dalam k ata-kata yang dapat dimengerti orang lain, tetapi juga harus mampu berbicara ten tang topik yang dapat dipahami dan dapat menceritakannya secara menarik kepada o rang lain. Perkembangan bicara merupakan hal yang terpenting bagi perkembangan s osialisasi anak. Ketiga, anak akan belajar bersosialisasi jika mereka mempunyai motivasi untuk me lakukannya. Motivasi ini sangat bergantung pada tingkat kepuasaan yang diberikan kelompok sosialnya kepada anak. Jika mereka memperoleh kesenangan melalui hubun gan dengan orang lain, mereka akan mengulangi hubungan tersebut. Keempat, metode belajar yang efektif dengan bimbingan yang tepat adalah penting. Dengan metode coba ralat, anak akan mempelajari beberapa perilaku yang penting bagi perilaku sosialnya. D. BENTUK-BENTUK TINGKAH LAKU SOSIAL Dalam perkembangan menuju kematangan sosial, anak mewujudkan dalam bentuk-bentuk interkasi sosial diantarannya : 1. Pembangkangan (Negativisme) Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap pe nerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai denga n kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada usia 18 bulan dan mencapai p uncaknya pada usia tiga tahun dan mulai menurun pada usia empat hingga enam tahu n. Sikap orang tua terhadap anak seyogyanya tidak memandang pertanda mereka anak ya ng nakal, keras kepala, tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent. 2. Agresi (Agression) Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal ). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi ( rasa kecewa kar ena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubut, menggigit, menendang dan lain sebagainya. Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara

mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang ag resif maka egretifitas anak akan semakin memingkat. 3. Berselisih (Bertengkar) Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau pe rilaku anak lain. 4. Menggoda (Teasing) Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan m ental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) y ang menimbulkan marah pada orang yang digodanya. 5. Persaingan (Rivaly) Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. S ikap ini mulai terlihat pada usia empat tahun, yaitu persaingan prestice dan pad a usia enam tahun semangat bersaing ini akan semakin baik. 6. Kerja sama (Cooperation) Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain. Sikap ini mulai nampak pada usia tiga tahun atau awal empat tahun, pada usia enam hingga tujuh tahun sikap ini s emakin berkembang dengan baik. 7. Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior) Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bos siness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya. 8. Mementingkan diri sendiri (selffishness) Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya 9. Simpati (Sympaty) Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap o rang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya. E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN SOSIAL Perkembangan sosial anak dipengaruhi beberapa faktor yaitu : 1. Keluarga Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Pr oses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak diten tukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga. 2. Kematangan Untuk dapat bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis seh ingga mampu mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang l ain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping itu kematangan d alam berbahasa juga sangat menentukan.

3. Status Sosial Ekonomi Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam m asyarakat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah d itanamkan oleh keluarganya. 4. Pendidikan Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan se bagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan s osial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang. 5. Kapasitas Mental : Emosi dan Intelegensi Kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belaj ar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali ter hadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelek tinggi akan berke mampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimb ang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial anak. F. HAZARD PADA PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK 1. Periode Perkembangan dalam Kandungan (Pra-Natal) Pada masa periode ini, beberapa problem sosial dialami secara tidak langsung yai tu melalui perantara ibu yang hamil. Problem sosial yang dialami oleh ibu hamil juga dirasakan secara tidak langsung oleh anak pada masa pra natal. Salah satu p roblem sosial ini adalah: keadaan emosi seorang ibu. Maksudnya adalah keadaan emosi yang dialami juga dirasakan oleh ibu, entah karen a disebabkan terjadi masalah dengan suami, ataupun masalah sosial mengenai keham ilan ibu (hamil diluar nikah). Perubahan emosi pada ibu hamil menurut penelitian menyebabkan susunan saraf otonom akan melepaskan beberapa zat kimiawi ke dalam aliran darah, sehingga metabolisme dalam tubuh akan mengalami perubahan. Dengan begitu, akan terjadi perubahan sistem sirkulasi pada janin, dan akan mengganggu perkembangan janin. Apabila hal ini terjadi dapat mempengaruhi emosi janin, kare na emosi janin sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu saat mengandung. 2. Periode Perkembangan Masa bayi Periode masa bayi berlangsung saat bayi berusia 2 minggu hingga usia 2 tahun. Pa da masa ini, bayi banyak melakukan eksplorasi terhadap banyak hal. Dimana terdap at berbagai resiko, untuk itu dalam masa ini bayi masih sangat ketergantungan te rhadap orang lain. Untuk itu, dalam masa ini juga bayi sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang diterimanya. Dan juga masa ini juga menjadi dasar dalam mas a mendatang, untuk itu pengaruh sosial yang diterima bayi haruslah memberikan co ntoh yang baik. 3. Periode Perkembangan Masa Kanak-kanak Pada masa ini berlangsung pada usia 2 tahun sampai 11 tahun, dimana perkembangan daya pengamatan dan masa keindahan sedang berkembang. Masa ini anak suka mengam ati dunia luarnya, serta suka mendengar cerita yang sesuai dengan fantasinya. Dalam masa ini, merupakan masa dimana anak belajar atau menyukai bergabung dalam sebuah kelompok. Diawali dengan keinginan kontak sosial dengan anak lain dan be rmain. Masa ini juga sering disebut sebagai masa bermain, karena anak lebih sena ng untuk bermain-main dengan anak-anak lain. Pola perilaku sosial yang sering di munculkan pada anak adalah negativisme, agresif, berkuasa, memikirkan diri sendi

ri, mementingkan diri sendiri, merusak, pertentangan seks dan prasangka. Perilak u sosial pada anak muncul disebabkan dengan meniru perilaku orang lain, belajar model, reinforcement dari teman. G. PENGARUH PERKEMBANGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAH LAKU Dalam perkembangan sosial anak, mereka dapat memikirkan Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering i dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain. tidak akan diketahui oleh orang lain, bahkan sering ada tau merahasiakannya.

dirinya dan orang lain. mengarah kepenilaian dir Hasil pemikiran dirinya yang menyembunyikannya a

Pikiran anak sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan s ikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang tuanya. Kemam puan abstraksi anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan kenyataan dan pe ristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semstinya menurut alam pikiranny a. Disamping itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya berupa : 1. Cita-cita dan idealism yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri, t anpa memikirkan akibat labih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis ya ng mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan. 2. Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lai n daalm penilaiannya. Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi penda pat orang lain, maka sikap ego semakin berkurang dan diakhir masa remaja sudah s angat kecil rasa egonya sehingga mereka dapat bergaul dengan baik. H. CARA MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK Senam bayi adalah suatu kegiatan yang bisa juga dikatakan sebagai bentuk permain an gerakan pada bayi. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan, s erta kemampuan pergerakan bayi secara optimal. Kemampuan sosialnya, dengan memberikan dukungan untuk bersosialisasi dan melatih anak agar terampil melakukan interaksi dan komunikasi. Anak diberi kesempatan u ntuk dapat bergaul dengan orang lain dan tidak terlalu memberikan perlindungan y ang berlebihan. BAB III KASUS A. Permasalahan yang Mungkin Muncul Terdapat berbagai kemungkinan permasalahan yang mungkin muncul pada aspek perkem bangan sosial ini diantaranya adalah: * Kurangnya kerjasama dari pihak keluarga untuk mengembangkan aspek sosial sang anak (no cooperative) * Adanya faktor genetik yang menghambat atau bahkan tidak mampu untuk bersosiali sasi, seperti, diskriminasi karena cacat atau kurangnya komunikasi karena tuna w icara. * Pola asuh yang salah dari orang tua, pola asuh dapat berdampak besar dalam asp ek sosial anak di masa depannya, seperti contoh, jika seorang anak diasuh dengan

pola ringan tangan atau sedikit kesalahan langsung memakai fisik akan menjadikan anak tersebut ringan tangan juga dan kurang mendapat respon dalam sosialnya B. Deskripsi Kasus Pada tahun 2007 di Cekoslavia terjadi sebuah peristiwa yang menggemparkan seluru h negri tersebut. Ondra, seorang anak laki-laki berumur 8 tahun dikurung di ruan g sempit tak berjendela, tanpa pakaian sehelai pun, dan dengan keadaan tangan da n kaki terikat, kekurangan makanan dan dehidrasi serta terpaksa harus memakan mu ntahannya sendiri. Diatas semua itu, dia bukan diculik, ataupun disiksa oleh ora ng asing, namun oleh ibunya sendiri. Ibunya yang mempunyai 2 anak lain, dan berk erja dalam penelitian psikologi anak yang sering menangani anak-anak autis. Ondr a sendiri mempunyai masalah dengan pendengarannya, hal itu membuat ibunya mudah untuk mengajukan permohonan Homeschooling ke sekolah lamanya. Tidak ada yang mer indukan Ondra di sekolah lamanya, atau dimanapun, karena dari awal, ibunya sudah melarang Ondra untuk bergaul dengan siapapun. Keberadaannya dalam penahanan ibu nya sendiri berlangsung cukup lama, sampai suatu saat, tetangganya membeli sebua h alat komunikasi radio, dan menangkap frekuensi aneh yang bersuarakan seseorang meminta tolong. Suara itu berasal dari merk radio yang sama yang digunakan Ibu tersebut untuk berkomunikasi dengan Ondra di basement. Dehidrasi dan shock, anak berumur 8 tahun itu langsung dilarikan ke rumah sakit. Kedua saudaranya dibawa ke panti asuhan. Tak berapa lama, Ondra juga bergabung dengan mereka. Tapi seora ng psikologis anak, Dita Pokorna, menjelaskan bahwa ketiga anak itu mengalami tr auma yang sangat hebat. Kau bisa melihat Ondra sangat ketakutan akan segala hal, dan dia benar-benar nger

i pada tempat gelap. Dan pada saat ia akan mulai bergaul lagi dengan teman-teman nya, pasti akan banyak reaksi-reaksi abnormal berkenaan dengan masa lalunya yang buruk Belum jelas apa motif dari Natasha, Ibu Ondra mengenai kenapa ia menyiksa anakny a berkenaan karena Natasha tidak bisa diinterogasi dan memilih untuk menutup mul utnya. Sedangkan ketiga anak itu juga tidak dapat ditanyai banyak hal. Begitu be rhadapan dengan orang dewasa yang mereka tidak kenal, mereka akan mulai gemetar hebat, dan menunjukkan ketakutan yang tidak biasa. Hal yang sama juga terjadi de ngan dua anak lainnya, walau tidak separah apa yang dialami Ondra. Ketiga anak t ersebut mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan menyampaikan pendapatnya kep ada orang lain. Gangguan psikis, serta trauma yang besar seperti yang mereka ala mi akan menjadi gangguan untuk mereka bersosialisasi pada masa depan nantinya. Sekarang, Ondra dan satu saudara angkatnya, Kamishca masih dalam tahap perawatan di rumah sakit kejiwaan di Ceko, sedangkan satu saudara laki-laki lainnya, mula i dapat bersekolah walaupun harus masuk ke sekolah luar biasa. The accused Klara Mauerova with the now-escaped adopted daughter Anna, photo: CT K Ondra pasca penyiksaan C. Analisis Kasus Dari kasus diatas, Ondra, sang anak mengalami taruma yang berat terhadap dunia l uar dikarenakan dikurung selama beberapa tahun di tempat yang gelap oleh ibunya sendiri. Sebelumnya juga dia tidak diizinkan untuk bergaul dengan teman-temannya di sekolah lamanya oleh ibunya yang membuatnya kurang dlam berkomunikasi. Karen a apa yang dilakukan oleh ibunya tersebut Ondra mengalami shock dan trauma yang berat dan kesulitan untuk berkomunikasi karena kurang stimulus/pelatihan, dikare nakan perlakuan itu juga dia kurang mendapatkan basic trust dari orang tuanya ya ng menyebabkan dia tidak percaya dengan orang lain. Perilaku-perilaku abnormal i ni terjadi karena pola asuh anak yang salah dilakukan oleh orangtuanya yang meng

akibatkan anaknya mengalami kemunduran dan kesulitan untuk bersosialisasi. BAB IV KESIMPULAN Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tu ntutan sosial dengan berprilaku yang dapat diterima secara sosial, memenuhi tunt utan yang diberikan oleh kelompok sosial, dan memiliki sikap yang positif terhad ap kelompok sosialnya. Sikap anak-anak terhadap orang lain dalam bergaul sebagia n besar akan sangat tergantung pada pengalaman belajarnya selama tahun-tahun awa l kehidupan, yang merupakan masa pembentukan dalam menyesuaikan diri dengan ling kungan sosialnya. Perkembangan sosial anak dimulai dimulai sejak dini pada masa kanak-kanak dengan munculnya senyuman sosial. reaksi sosial pertama terjadi pada bayi yang ditujukan pada orang dewasa, kemudian pada bayi lain kemudian pada an ak-anak. Pola perilaku sosial yang dibina pada masa tersebut merupakan landasan bagi perkembngan sosial kemudian. Perkembangan sosial akhir masa kanak-kanak ditandai dengan masuknya anak ke kela s satu SD. Pada masa ini biasanya orang tua akan memberikan hanya sedikit waktun ya untuk berinteraksi dengan anak, sosialisasi di sekolah pada umumnya terjadi a tas dasar interest dan aktvitas bersama, lebih banyak meluangkan waktu untuk tem an sebaya dan mulai membentuk hub. peer group (geng) yaitu usaha yang pada saat itu kesadaran sosial berkembang pesat dan telah menjadi pribadi sosial yang meru pakan salah salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode ini dan akan lebih cenderung membentuk hubungan dengan teman perempuan. Gang pada masa kanakkanak merupakan suatu kelompok yang spontan dan tidak mempunyai tujuan yang dite rima secara sosial. Gang merupakan usaha anak untuk menciptakan suatu masyarakat yang sesuai bagi pemenuhan kebutuhan mereka. Gang memberikan pembebasan dari pe ngawasan orang dewasa. Namun gang juga merupakan modal bagi konsep diri yang bai k. Bahkan anak yang tidak menjadi anggota gang akan terlantar dalam segi pengaru h sosialisasi ini dan kemungkinan besar akan mengembangkan konsep diri yang kura ng baik. SARAN Saat ini banya bahaya dalam proses menuju perkembangan sosial yang umumnya dapat dikendalikan jika diketahui pada saat yang tepat dan jika dilakukan langkah per baikan untuk menguranginya sebelum menjadi kebiasaan dan menimbulkan reputasi ya ng kurang baik. Karena itu sebaiknya orang tua benar-benar memperhatikan perkemb angan anak sampai ia mampu untuk membedakan dan memilih mana yang baik dan buruk untuk dirinya (dewasa). Tetapi tidak dengan bersikap otoriter terhadap anak, su paya anak merasa lebih nyaman dan tidak takut untuk menceritakan konflik-konflik yang terjadi selama masa perkembangannya. DAFTAR PUSTAKA Hurlock B Elizabeth, Developmental Psychology; Mc Grow Hill, Inc, 1980, Alih Bah asa, Istiwidayanti dan suedjarwo, Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanj ang Rentang Kehidupan, Jakarta, Erlangga, tt. Hurlock B Elizabeth, Child Developmental; Mc Grow Hill, Inc, 1978, Alih Bahasa, dr. Med. Meitasari Tjandrasa dan Dra. Muslichah Zarkasih, Perkembangan Anak, Jak arta, Erlangga, tt. Santrock, John W, Life-Span Development, WM, C Brown Comunication, Inc, 1995, Al ih bahasa Achmad Chusairi, S.PSI, Perkembangan Masa Hidup Jilid I, Jakarta, Erla ngga, 2002. http://h4md4ni.wordpress.com/perkembang-anak/

Diposkan oleh Pitiful Kuro di 21.21 0 komentar Rabu, 06 Mei 2009 UTS Kepribadian, haha Jung Dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan berbagai macam orang di kehidupan s ehari-hari sering sekali kita menilai sifat dan sikap orang-orang tersebut dan k ita melakukan pengamatan terhadap kepribadian orang tersebut. Dimana biasanya pe nilaian dan pengamatan tersebut hanyalah berdasarkan pada sebagian dari tingkah laku dan hasil analisa yang sangat dangkal. Namun, apakah kepribadian itu sendir i? Kepribadian merupakan sesuatu yang sangat rumit dan kompleks, sehingga tidak mud ah dalam mendefinisikannya. Menurut Pervin (2000) : Personality represent those characteristic of the person that account for consist ent pattern of feeling, thinking and behaving.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan penentu karak teristik dari seseorang yang menentukan bagaimana ia merasa berfikir dan berting kah laku. Sedangkan Menurut Allport (dalam Chaplin, 2001), kepribadian adalah organisasi d inamis didalam individu yang terdiri dari system-sistem psikofisik yang menentuk an tingkah laku dan pikirannya secara karakteristik. Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, membahas kepribadian manusia melalui berbagai macam pendekatan, yang salah satunya adalah pendekatan Psikodinamik. Dalam pend ekatan ini, Carl Gustav Jung menjelaskan kepribadian manusia berdasarkan tujuann ya dalam kehidupan yang dipengaruhi oleh masa lalu dan masa depan manusia. Jung menjelaskan berbagai macam struktur dari Psyche, tipologi kepribadian manusia be rdasarkan sikap dan fungsi dominan yang dimiliki oleh manusia itu, mekanisme per gerakan energi psikis dan tahap perkembangan kepribadiannya. Struktur Psyche Menurut Jung Menurut Jung, psyche adalah kesatuan yang di dalamnya terdapat semua pikiran, pe rasaan dan tingkah laku baik yang disadari maupun tidak disadari yang saling ber interaksi satu sama lainnya. Struktur psyche menurut Jung terdiri dari : 1. Ego Ego merupakan jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran dan perasa an-perasaan sadar. Ego bekerja pada tingkat conscious Dari ego lahir perasaan id entitas dan kontinyuitas seseorang. Ego seseorang adalah gugusan tingkah laku ya ng umumnya dimiliki dan ditampilkan secara sadar oleh orang-orang dalam suatu ma syarakat. Ego merupakan bagian manusia yang membuat ia sadar pada dirinya. 2. Personal Unconscious Struktur psyche ini merupakan wilayah yang berdekatan dengan ego. Terdiri dari p engalaman-pengalaman yang pernah disadari tetapi dilupakan dan diabaikan dengan cara repression atau suppression. Pengalaman-pengalaman yang kesannya lemah juga disimpan kedalam personal unconscious. Penekanan kenangan pahit kedalam persona

l unconscious dapat dilakukan oleh diri sendiri secara mekanik namun bisa juga k arena desakan dari pihak luar yang kuat dan lebih berkuasa. Kompleks adalah kelo mpok yang terorganisir dari perasaan, pikiran dan ingatan-ingatan yang ada dalam personal unconscious. Setiap kompleks memilki inti yang menarik atau mengumpulk an berbagai pengalaman yang memiliki kesamaan tematik, semakin kuat daya tarik i nti semakin besar pula pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia. Kepribadian de ngan kompleks tertentu akan didominasi oleh ide, perasaan dan persepsi yang dika ndung oleh kompleks itu. 3. Collective Unconscious Merupakan gudang bekas ingatan yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseoran g yang tidak hanya meliputi sejarah ras manusia sebagai sebuah spesies tersendir i tetapi juga leluhur pramanusiawi atau nenek moyang binatangnya. Collective unc onscious terdiri dari beberapa Archetype, yang merupakan ingatan ras akan suatu bentuk pikiran universal yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bentuk pikir an ini menciptakan gambaran-gambaran yang berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan , yang dianut oleh generasi terentu secara hampir menyeluruh dan kemudian ditamp ilkan berulang-ulang pada beberapa generasi berikutnya. Beberapa archetype yang dominan seakan terpisah dari kumpulan archetype lainnya dan membentuk satu siste m sendiri. Empat archetype yang penting dalam membentuk kepribadian seseorang ad alah : 1. Persona yang merupakan topeng yang dipakai manusia sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat serta terhadap kebutuhan arc hetypal sendiri. 2. Anima & Animus merupakan elemen kepribadian yang secara psikologis berpeng aruh terhadap sifat bisexual manusia. Anima adalah archetype sifat kewanitaan / feminine pada laki-laki, sedangkan Animus adalah archetype sifat kelelakian / ma skulin pada perempuan. 3. Shadow adalah archetype yang terdiri dari insting-insting binatang yang di warisi manusia dalam evolusinya dari bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah k ebentuk yang lebih tinggi. 4. Self, yang secara bertahap menjadi titik pusat dari kepribadian yang secar a psikologis didefinisikan sebagai totalitas psikis individual dimana semua elem en kepribadian terkonstelasi disekitarnya. Self membimbing manusia kearah self-a ctualization, merupakan tujuan hidup yang terus-menerus diperjuangkan manusia te tapi jarang tercapai. Tipologi Jung Menurut teori psikoanalisa dari Jung ada dua aspek penting dalam kepribadian yai tu sikap dan fungsi. Sikap terdiri dari introvert dan ekstrovert, sedangkan fung si terdiri dari thinking, feeling, sensing dan intuiting. Dari kedelapan hal ini maka diperoleh tipologi Jung, yaitu : 1. Introversion-Thinking Orang dengan sikap yang introvert dan fungsi thinking yang dominan biasanya tida k memiliki emosi dan tidak ramah serta kurang bisa bergaul. Hal ini terjadi kare na mereka memiliki kecenderungan untuk memperhatikan nilai abstrak dibandingkan orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Mereka lebih mengejar dan memperhatikan p emikirannya tanpa memperdulikan apakah ide mereka diterima oleh orang lain atau tidak. Mereka biasanya keras kepala, sombong dan berpendirian. Contoh dari orang dengan kepribadian seperti ini adalah philosophers. 2. Extraversion-Thinking Contoh orang dengan sikap extrovert dan fungsi thinking yang dominan adalah ilmu

wan dan peneliti. Mereka memiliki kecenderungan untuk muncul seorang diri, dingi n dan sombong. Seperti pada tipe pertama, mereka juga me-repress fungsi feeling. Kenyataan yang obyektif merupakan aturan untuk mereka dan mereka menginginkan o rang lain juga berpikir hal yang sama. 3. Introversion-Feeling Orang dengan introversion-feeling berpengalaman dalam emosi yang kuat, tapi mere ka menutupinya. Contoh orang dengan sikap introvert dan fungsi feeling yang domi nan adalah seniman dan penulis, dimana mereka mengekspresikan perasaannya hanya dalam bentuk seni. Mereka mungkin menampilkan keselarasan didalam dirinya dan se lf-efficacy, namun perasaan mereka dapat meledak dengan tiba-tiba. 4. Extraversion-Feeling Pada orang dengan sikap extraversion dan fungsi feeling yang dominan perasaan da pat berubah sebanyak situasi yang berubah. Kebanyakan dari mereka adalah aktor. Mereka cenderung untuk emosional dan moody tapi terkadang sikap sosialnya dapat muncul. 5. Introversion-Sensation Orang ini cenderung tenggelam dalam sensasi fisik mereka dan untuk mencari hal y ang tidak menarik dari dunia sebagai perbandingan. Biasanya mereka adalah orangorang yang tenang, kalem, self-controlled, tapi mereka juga membosankan dan kura ng bisa berkomunikasi. 6. Extraversion-Sensation Orang dengan tipe ini biasanya adalah businessman. Mereka biasanya realistik, pr aktis, dan pekerja keras. Mereka menikmati apa yang dapat mereka indrai dari dun ia ini, menikmati cinta dan mencari kegairahan. Mereka mudah dipengaruhi oleh pe raturan dan mudah ketagihan pada berbagai hal. 7. Introversion-Intiuting Pemimipi, peramal, dan orang aneh biasanya adalah orang dengan sikap introvert d an fungsi intuitif yang dominan. Mereka terisolasi dalam gambaran-gambaran primi tif yang artinya tidak selalu mereka ketahui namun selalu muncul dalam pikiran m ereka. Mereka memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain, tidak pr aktis namun memiliki intuisi yang sangat tajam dibandingkan orang lain. 8. Extraversion-Intuiting Penemu dan pengusaha biasanya memiliki sikap extravert dan fungsi intuitif yang dominan, mereka adalah orang-orang yang selalu mencari sesuatu yang baru. Mereka sangat baik dalam mempromosikan hal-hal yang baru. Namun mereka tidak dapat ber tahan pada satu ide, pekerjaan maupun lingkungan karena sesuatu yang baru merupa kan tujuan hidup mereka. Aktivitas Energi Psikis, Individuation, dan Transcendent Function Energi psikis muncul dari pengalaman individual dan merupakan energi untuk berpi kir, berkeinginan, memelihara, dan berjuang. Energi psikis mengikuti hukum equiv alence dan entropy dari hukum thermodinamika. Dimana jumlah energi tidak akan be rubah dan saling berinteraksi agar mencapai keseimbangan. Energi psikis melakuka n dua tujuan hidup yaitu mempertahankan diri dan mengembangkan budaya dan aktivi tas spiritual dengan melakukan progression, sublimation (energi bergerak maju) , regression dan repression (yang menekan ke ketidak sadaran).

Progression adalah keadaan dimana kesadaran/ ego dapat menyesuaikan diri secara memuaskan baik terhadap tuntutan dunia luar maupun kebutuhan ketidak sadaran, ya ng menyebabkan perkembangan bergerak maju. Apabila gerak maju ini terganggu oleh suatu rintangan, dan karenanya libido tercegah untuk digunakan secara maju maka libido akan melakukan regresi, yaitu kembali ketahap sebelumnya atau masuk ke k etidak sadaran atau dikenal dengan repression. Sedangkan sublimation adalah tran sfer energi dari proses yang lebih primitif, instinktif dan rendah diferensiasin ya ke proses yang lebih bersifat kultural, spiritual dan tinggi diferensiasinya. Individuation adalah proses untuk mencapai kepribadian yang integral serta sehat , dimana semua sistem atau aspek kepribadian harus mencapai taraf diferensiasi d an perkembangan yang sepenuh-penuhnya, disebut juga proses pembentukan diri, ata u penemuan diri. Transcendent function adalah kemampuan untuk mempersatukan segala kecenderungan yang saling berlawanan dan mengolahnya menjadi satu kesatuan yang sempurna dan i deal. Tujuan dari fungsi ini adalah menjelmakan manusia sempurna, realisasi sert a aktualisasi segala aspek-aspek yang tersembunyi dalam ketidak sadaran. Fungsi inilah yang mendorong manusia mengejar kesempurnaan kepribadian.

Tipologi Kepribadian berdasarkan temperamen Tipe Kepribadian Perbedaan kepribadian atau tipe-tipe kepribadian yang melekat pada setiap orang telah menarik perhatian para ahli sejak dahulu kala. Sebenarnya penjelasan Alkit ab mengenai tipe-tipe kepribadian ini telah ada jauh sebelum penelitian ilmiah. Alkitab menjelaskan tentang perbedaan antara pria dan wanita yang merupakan perb edaan tipe kepribadian yang sangat jelas. Perkembangan selanjutnya memberikan ke pada kita suatu penguraian yang lebih terperinci mengenai tipe-tipe kepribadian orang. Di dalam bidang kedokteran pada zaman Yunani kuno, Hippocrates telah melakukan s uatu usaha penelitian di dalam tipologi kepribadian. Ia menyimpulkan bahwa tempe ramen (darah, flegma, empedu hitam, empedu kuning) berhubungan dengan kepribadia n yang mudah terserang berbagai macam penyakit. Ia menyatakan bahwa mereka yang pendek dan gempal mudah terserang apoplexy dan mereka yang tinggi dan kerempeng mudah terserang penyakit tuberclosis. Kecuali Galen (130-200 AD) membagi tipe ke pribadian itu berdasarkan temperamen tersebut menjadi: 1. 2. 3. 4.

Sanguine - tipe yang meluap-luap. Flegmatik - tipe lamban. Kolerik - tipe gerak cepat. Melankolik - tipe patah hati.

Sekali pun pembagian tipe kepribadian ini dinilai tidak ilmiah, namun istilah-is tilah tersebut masih dipakai sampai dengan saat ini. Kemudian Ernst Kretschmer ( 1888-1964) dalam bukunya "Physique and Character" membagi kepribadian atau tempr amen atas 4 tipe: 1. Tipe astenik. Tipe ini mempunyai ciri kurus, lurus, tubuh lemah, sulit bertumbuh, dan ce nderung kepada schizophrenia. 2. Tipe atletis.

Ciri-ciri tipe ini, orangnya tinggi, besar, dadanya bidang, kekar, dan pos tur tubuh yang meruncing ke bawah. Secara kejiwaan, orang ini mempunyai potensi schizothymic. 3. Tipe piknik. Tubuhnya cenderung melebar, lembut, gemuk bulat dan berlemak. Kretschmer m engidentifikasikan tipe dengan cycloid atau manic- depressive, suatu temperamen yang berubah-ubah, kadang senang, kadang murung. 4. Tipe displastik. Tipe yang lain dari ketiga tipe di atas. William Sheldon yang menulis buku "The Varieties of Temperament" (1942), j uga memberi perhatian kepada bentuk tubuh. Ia memusatkan perhatian pada peneliti annya tentang meticulous yang disebutnya sebagai somatotyping. Sikap dan tingkah lakunya diduga menyesuaikan diri dengan bentuk tubuhnya. Ia membagi tipe keprib adian menjadi tiga bagian: 1. Endomorphy. Dari segi fisik, pencernaannya baik, namun otot-ototnya lemah. Karen a itu tubuhnya cenderung gemuk. Tipe ini lamban, senang memanjakan tubuhnya, suk a makan (apalagi kalau bersama kawan- kawan), orangnya mudah dan sangat bersahab at, dan merasa puas selalu. 2. Mesontorphy. Orang tipe ini memiliki tubuh yang kekar, langkahnya tegap, senang m enguasai karena memang dia punya kekuatan, suka terhadap hal-hal yang beresiko b erbahaya. Ia mempunyai arah yang tegas dan jelas, punya keberanian untuk bertemp ur. Sifat ekstrovertnya sangat menonjol. 3. Ectomorphy. Tipe ini ditandai dengan ketenangan. Postur tubuh dan gerak yang kak u. Perasaannya sangat peka. Sifatnya sangat tertutup. Pada tahun 1971, C.G. Jung menulis sebuah buku yang berjudul "Psychological Type s". Ia membagi kepribadian itu atas introvert dan extrovert. Kedua tipe itu dita ndai dengan sikap seseorang terhadap obyek. Seorang yang introvert pada dasarnya selalu ingin melarikan diri dari obyek, seakan-akan obyek itu harus dicegah aga r tidak menguasainya. Sebaliknya, orang yang ekstrovert mempunyai sikap yang pos itif terhadap obyek. Dialah yang menguasai obyek itu. Kelihatannya pembagian Jun g itu terlalu sederhana. Tetapi sebetulnya Jung mengklasifikasikan kedua tipe it u ke dalam delapan subtipe, sehingga terkesan rumit. 1. Tipe pemikir ekstrovert. Setiap aktivitas orang tipe ini tidak lepas dari kesimpulan- kesimpulan ya ng bersifat intelektual yang didasarkan pada data obyektif. 2. Tipe perasa ekstrovert. Orang ini sebelum bertindak, perasaannya itu harus pas dulu. Jung memasukk an kaum wanita ke dalam tipe ini. 3. Tipe sensasi ekstrovert. Bagi dia, segala sesuatu harus benar dan berorientasi pada kesenangan yang konkrit, tidak berlebihan, hukum itu harus dipatuhi. Orang tipe ini tidak memen tingkan diri sendiri, dan rela berkorban demi kepentingan orang lain. 4. Tipe intuitif ekstrovert. Orang ini tidak akan ditemukan dalam dunia yang memiliki nilai realitas ya ng dapat diterima. Ia tidak puas dengan apa yang ada. Ia selalu menyelidiki sesu atu dan berbuat sesuatu yang baru. 5. Tipe pemikir introvert. Orang ini terlalu membatasi diri dengan pikiran dan pendapatnya sendiri. I a bisa berpikir kritis, tetapi sering subyektif. 6. Tipe perasa introvert. Orangnya tenang, sulit didekati, sukar mengerti dan kurang tanggap terhada p perasaan orang lain. 7. Tipe sensasi introvert. Dia selalu berorientasi pada peristiwa-peristiwa yang terjadi, dan bukan p ada penilaian yang masuk akal. 8. Tipe intuitif introvert.

Tipe ini sangat senang dengan hal-hal yang berbau mistik, bahkan ia bisa m enjadi peramal atau seniman yang aneh. Pembagian Jung ini disempurnakan lebih lanjut oleh Isabel Briggs Myers dalam buk unya "Gifts Differing". Dia membagi ke delapan tipe Jung menjadi dua sub tipe ya ng menyangkut penilaian dan pemahaman. Dialah yang menemukan tipe Myers-Briggs y ang merupakan indikator terhadap pengukuran preferensi kepribadian, kapasitas da n keterbatasannya. Ia yakin bahwa setiap subtipe itu mempunyai kekuatan. Hal ini sangat menolong kita sebagai pelayan. Suatu pendekatan yang baru terhadap anali sa tingkah laku dari tipe kepribadian ini terdapat dalam "The Diagnostic and Sta tistical Manual III", yang menguraikan 11 gangguan kepribadian yang di kelompokk an dalam tiga bagian: Kelompok A: Orang-orang aneh dan eksentrik. 1. Paranoid: Suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan ciri-ciri khas hipersensit ivitas, kecurigaan, dan kecenderungan untuk menyalahkan orang lain. 2. Schzoid: Selalu menjauhkan diri dari orang lain serta memiliki pemikiran yang eksen trik. 3. Schizotypal: Ciri kepribadian yang terganggu yang ditandai dengan pengucil an diri dari orang lain serta pikiran-pikiran yang eksentrik (aneh, sinting, keg ila-gilaan). Mirip schizophrenia, tetapi tidak begitu parah. Kelompok B: Orang-orang dramatis, emosional dan tak menentu. 1. Anti-sosial: Ketidakmauan untuk berasosiasi dengan individu-individu lain atau kelompok -kelompok lain. Sikapnya selalu melawan standar sosial, dan karenanya berbahaya bagi masyarakat. 2. Borderline: Orangnya tidak stabil dalam tingkah laku, suasana hati, hubungan dengan or ang lain, dan konsep diri. 3. Histronie: Gangguan kepribadian yang ditandai dengan kehebohan, dramatisasi diri, pem bujukan dan usaha untuk mencari perhatian. 4. Narcisstic: Ditandai dengan cinta diri yang sering dikaitkan dengan kepuasan erotis. I a sangat menyayangi tubuhnya, perbuatan dan kemampuannya. Kelompok C: Ditandai dengan kecemasan, ketakutan dan suka bertingkah. 1. Avoidant: Cirinya adalah kepekaan yang berlebihan terhadap penolakan orang lain, seh ingga ia tidak mau berhubungan dengan orang lain, takut kalau ditolak. 2. Dependent: Sangat kurang percaya diri, sehingga ia cepat menyerahkan diri kepada oran g lain. Karenanya mereka tidak bisa mengambil keputusan di dalam hidup mereka ta npa orang lain. 3. Obsessive-compulsive: Adanya ide (obsesi) yang tegar melekat dan sering tidak dikehendaki diirin gi dengan perbuatan yang tidak masuk akal. Seseorang akan mencuci tangannya seti ap lima menit karena takut akan bakteri yang akan membinasakannya. Atau, seorang yang sebentar-sebentar memeriksa kunci pintu apakah terkunci atau tidak, jangan -jangan ada maling yang sedang mondar-mandir di halaman rumahnya. Usaha-usaha se perti itu adalah usaha untuk menghilangkan perasan bersalah. 4. Passive-aggressive: Ditandai dengan pemberontakan melalui ketidakaktifan dan sikap keras kepal a.

Erik Erikson Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifa t sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas. Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut Erikso n adalah sebagai berikut : Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan) Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tah un. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangka n kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaa n. Kepercayaan ini akan terbina dengan baik apabila dorongan oralis pada bayi te rpuaskan, misalnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman da n tepat waktu, serta dapat membuang kotoron (eliminsi) dengan sepuasnya. Oleh se bab itu, pada tahap ini ibu memiliki peranan yang secara kwalitatif sangat menen tukan perkembangan kepribadian anaknya yang masih kecil. Apabila seorang ibu bis a memberikan rasa hangat dan dekat, konsistensi dan kontinuitas kepada bayi mere ka, maka bayi itu akan mengembangkan perasaan dengan menganggap dunia khususnya dunia sosial sebagai suatu tempat yang aman untuk didiami, bahwa orang-orang yan g ada didalamnya dapat dipercaya dan saling menyayangi. Kepuasaan yang dirasakan oleh seorang bayi terhadap sikap yang diberikan oleh ibunya akan menimbulkan ra sa aman, dicintai, dan terlindungi. Melalui pengalaman dengan orang dewasa terse but bayi belajar untuk mengantungkan diri dan percaya kepada mereka. Hasil dari adanya kepercayaan berupa kemampuan mempercayai lingkungan dan dirinya serta jug a mempercayai kapasitas tubuhnya dalam berespon secara tepat terhadap lingkungan nya. Sebaliknya, jika seorang ibu tidak dapat memberikan tidak dapat memberikan rasa hangat dan nyaman atau embuat ibunya berpaling dari kebutuhan-kebutuhannya ka sendiri, maka bayi akan lebih mengembangkan rasa selalu curiga kepada orang lain.

kepuasan kepada bayinya, dan jika ada hal-hal lain yang m demi memenuhi keinginan mere tidak percaya, dan dia akan

Hal ini jangan dipahami bahwa peran sebagai orangtua harus serba sempurna tanpa ada kesalahan/cacat. Karena orangtua yang terlalu melindungi anaknya pun akan me nyebabkan anak punya kecenderungan maladaptif. Erikson menyebut hal ini dengan s ebutan salah penyesuaian indrawi. Orang yang selalu percaya tidak akan pernah me mpunyai pemikiran maupun anggapan bahwa orang lain akan berbuat jahat padanya, d an akan memgunakan seluruh upayanya dalam mempertahankan cara pandang seperti in i. Dengan kata lain,mereka akan mudah tertipu atau dibohongi. Sebaliknya, hal te rburuk dapat terjadi apabila pada masa kecilnya sudah merasakan ketidakpuasan ya ng dapat mengarah pada ketidakpercayaan. Mereka akan berkembang pada arah kecuri gaan dan merasa terancam terus menerus. Hal ini ditandai dengan munculnya frusta si, marah, sinis, maupun depresi. Pada dasarnya setiap manusia pada tahap ini tidak dapat menghindari rasa kepuasa n namun juga rasa ketidakpuasan yang dapat menumbuhkan kepercayaan dan ketidakpe rcayaan. Akan tetapi, hal inilah yang akan menjadi dasar kemampuan seseorang pad a akhirnya untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik. Di mana setiap individu pe rlu mengetahui dan membedakan kapan harus percaya dan kapan harus tidak percaya dalam menghadapi berbagai tantangan maupun rintangan yang menghadang pada perput aran roda kehidupan manusia tiap saat.

Adanya perbandingan yang tepat atau apabila keseimbangan antara kepercayaan dan ketidakpercayaan terjadi pada tahap ini dapat mengakibatkan tumbuhnya pengharapa n. Nilai lebih yang akan berkembang di dalam diri anak tersebut yaitu harapan da n keyakinan yang sangat kuat bahwa kalau segala sesuatu itu tidak berjalan sebag aimana mestinya, tetapi mereka masih dapat mengolahnya menjadi baik. Pada aspek lain dalam setiap tahap perkembangan manusia senantiasa berinteraksi atau saling berhubungan dengan pola-pola tertentu (ritualisasi). Oleh sebab itu, pada tahap ini bayi pun mengalami ritualisasi di mana hubungan yang terjalin de ngan ibunya dianggap sebagai sesuatu yang keramat (numinous). Jika hubungan ters ebut terjalin dengan baik, maka bayi akan mengalami kepuasan dan kesenangan ters endiri. Selain itu, Alwisol berpendapat bahwa numinous ini pada akhirnya akan me njadi dasar bagaimana orang menghadapi/berkomunikasi dengan orang lain, dengan p enuh penerimaan, penghargaan, tanpa ada ancaman dan perasaan takut. Sebaliknya, apabila dalam hubungan tersebut bayi tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu akan merasa terasing dan terbuang, sehingga dapat terjadi suatu pola kehidu pan yang lain di mana bayi merasa berinteraksi secara interpersonal atau sendiri dan dapat menyebabkan adanya idolism (pemujaan). Pemujaan ini dapat diartikan d alam dua arah yaitu anak akan memuja dirinya sendiri, atau sebaliknya anak akan memuja orang lain. Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasany a disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik , maka dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua da lam mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan mengal ami sikap malu dan ragu-ragu. Dengan kata lain, ketika orang tua dalam mengasuh anaknya sangat memperhatikan anaknya dalam aspek-aspek tertentu misalnya mengizi nkan seorang anak yang menginjak usia balita untuk dapat mengeksplorasikan dan m engubah lingkungannya, anak tersebut akan bisa mengembangkan rasa mandiri atau k etidaktergantungan. Pada usia ini menurut Erikson bayi mulai belajar untuk mengo ntrol tubuhnya, sehingga melalui masa ini akan nampak suatu usaha atau perjuanga n anak terhadap pengalaman-pengalaman baru yang berorientasi pada suatu tindakan /kegiatan yang dapat menyebabkan adanya sikap untuk mengontrol diri sendiri dan juga untuk menerima control dari orang lain. Misalnya, saat anak belajar berjala n, memegang tangan orang lain, memeluk, maupun untuk menyentuh benda-benda lain. Di lain pihak, anak dalam perkembangannya pun dapat menjadi pemalu dan ragu-ragu . Jikalau orang tua terlalu membatasi ruang gerak/eksplorasi lingkungan dan kema ndirian, sehingga anak akan mudah menyerah karena menganggap dirinya tidak mampu atau tidak seharusnya bertindak sendirian. Orang tua dalam mengasuh anak pada usia ini tidak perlu mengobarkan keberanian a nak dan tidak pula harus mematikannya. Dengan kata lain, keseimbanganlah yang di perlukan di sini. Ada sebuah kalimat yang seringkali menjadi teguran maupun nasi hat bagi orang tua dalam mengasuh anaknya yakni tegas namun toleran. Makna dalam k alimat tersebut ternyata benar adanya, karena dengan cara ini anak akan bisa men gembangkan sikap kontrol diri dan harga diri. Sedikit rasa malu dan ragu-ragu, s angat diperlukan bahkan memiliki fungsi atau kegunaan tersendiri bagi anak, kare na tanpa adanya perasaan ini, anak akan berkembang ke arah sikap maladaptif yang disebut Erikson sebagai impulsiveness (terlalu menuruti kata hati), sebaliknya

apabila seorang anak selalu memiliki perasaan malu dan ragu-ragu juga tidak baik , karena akan membawa anak pada sikap malignansi yang disebut Erikson compulsive ness. Sifat inilah yang akan membawa anak selalu menganggap bahwa keberadaan mer eka selalu bergantung pada apa yang mereka lakukan, karena itu segala sesuatunya harus dilakukan secara sempurna. Apabila tidak dilakukan dengan sempurna maka m ereka tidak dapat menghindari suatu kesalahan yang dapat menimbulkan adanya rasa malu dan ragu-ragu. Jikalau dapat mengatasi krisis antara kemandirian dengan rasa malu dan ragu-ragu dapat diatasi atau jika diantara keduanya terdapat keseimbangan, maka nilai pos itif yang dapat dicapai yaitu adanya suatu kemauan atau kebulatan tekad. Meminja m kata-kata dari Supratiknya yang menyatakan bahwa kemauan menyebabkan anak secar a bertahap mampu menerima peraturan hukum dan kewajiban. Ritualisasi yang dialami oleh anak pada tahap ini yaitu dengan adanya sifat bija ksana dan legalisme. Melalui tahap ini anak sudah dapat mengembangkan pemahamann ya untuk dapat menilai mana yang salah dan mana yang benar dari setiap gerak ata u perilaku orang lain yang disebut sebagai sifat bijaksana. Sedangkan, apabila d alam pola pengasuhan terdapat penyimpangan maka anak akan memiliki sikap legalis me yakni merasa puas apabila orang lain dapat dikalahkan dan dirinya berada pada pihak yang menang sehingga anak akan merasa tidak malu dan ragu-ragu walaupun p ada penerapannya menurut Alwisol mengarah pada suatu sifat yang negatif yaitu ta npa ampun, dan tanpa rasa belas kasih. Inisiatif vs Kesalahan Tahap ketiga adalah tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak men ginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak p ada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan. Masa-masa bermain merupakan masa di mana seorang anak ingin belajar dan mampu belajar terhadap tantangan dunia luar, serta mempelajari kema mpuan-kemampuan baru juga merasa memiliki tujuan. Dikarenakan sikap inisiatif me rupakan usaha untuk menjadikan sesuatu yang belum nyata menjadi nyata, sehingga pada usia ini orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila t ujuan dari anak pada masa genital ini mengalami hambatan karena dapat mengembang kan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada klimaksnya mereka seringkali akan merasa bersalah atau malah akan mengemba ngkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang mereka rasakan dan lakukan. Ketidakpedulian (ruthlessness) merupakan hasil dari maladaptif yang keliru, hal ini terjadi saat anak memiliki sikap inisiatif yang berlebihan namun juga terlal u minim. Orang yang memiliki sikap inisiatif sangat pandai mengelolanya, yaitu a pabila mereka mempunyai suatu rencana baik itu mengenai sekolah, cinta, atau kar ir mereka tidak peduli terhadap pendapat orang lain dan jika ada yang menghalang i rencananya apa dan siapa pun yang harus dilewati dan disingkirkan demi mencapa i tujuannya itu. Akan tetapi bila anak saat berada pada periode mengalami pola a suh yang salah yang menyebabkan anak selalu merasa bersalah akan mengalami malig nansi yaitu akan sering berdiam diri (inhibition). Berdiam diri merupakan suatu sifat yang tidak memperlihatkan suatu usaha untuk mencoba melakukan apa-apa, seh ingga dengan berbuat seperti itu mereka akan merasa terhindar dari suatu kesalah an.

Kecenderungan atau krisis antara keduanya dapat diseimbangkan, maka akan lahir s uatu kemampuan psikososial adalah tujuan (purpose). Selain itu, ritualisasi yang terjadi pada masa ini adalah masa dramatik dan impersonasi. Dramatik dalam peng ertiannya dipahami sebagai suatu interaksi yang terjadi pada seorang anak dengan memakai fantasinya sendiri untuk berperan menjadi seseorang yang berani. Sedang kan impersonasi dalam pengertiannya adalah suatu fantasi yang dilakukan oleh seo rang anak namun tidak berdasarkan kepribadiannya. Oleh karena itu, rangakain kat a yang tepat untuk menggambarkan masa ini pada akhirnya bahwa keberanian, kemamp uan untuk bertindak tidak terlepas dari kesadaran dan pemahaman mengenai keterba tasan dan kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Kerajinan vs Inferioritas Tahap keempat adalah tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umu r 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah adal ah dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa re ndah diri. Saat anak-anak berada tingkatan ini area sosialnya bertambah luas dar i lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya. Tingkatan ini menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada aw alnya hanya sebuah fantasi semata, namun berkembang seiring bertambahnya usia ba hwa rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam bel ajar. Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhas il, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak dapat meraih suk ses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat me ngembangkan sikap rendah diri. Oleh sebab itu, peranan orang tua maupun guru san gatlah penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia sep erti ini. Kegagalan di bangku sekolah yang dialami oleh anak-anak pada umumnya m enimpa anak-anak yang cenderung lebih banyak bermain bersama teman-teman dari pa da belajar, dan hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan orang tua maupun gu ru dalam mengontrol mereka. Kecenderungan maladaptif akan tercermin apabila anak memiliki rasa giat dan rajin terlalu besar yang mana peristiwa ini menurut Erik son disebut sebagai keahlian sempit. Di sisi lain jika anak kurang memiliki rasa giat dan rajin maka akan tercermin malignansi yang disebut dengan kelembaman. M ereka yang mengidap sifat ini oleh Alfred Adler disebut dengan masalah-masalah in ferioritas. Maksud dari pengertian tersebut yaitu jika seseorang tidak berhasil p ada usaha pertama, maka jangan mencoba lagi. Usaha yang sangat baik dalam tahap ini sama seperti tahap-tahap sebelumnya adalah dengan menyeimbangkan kedua karat eristik yang ada, dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikemba ngkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi. Dalam lingkungan yang ada pola perilaku yang dipelajari pun berbeda dari tahap s ebelumnya, anak diharapkan mampu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan memperg unakan cara maupun metode yang standar, sehingga anak tidak terpaku pada aturan yang berlaku dan bersifat kaku. Peristiwa tersebut biasanya dikenal dengan istil ah formal. Sedangkan pada pihak lain jikalau anak mampu mengerjakan segala sesua tu dengan mempergunakan cara atau metode yang sesuai dengan aturan yang ditentuk an untuk memperoleh hasil yang sempurna, maka anak akan memiliki sikap kaku dan hidupnya sangat terpaku pada aturan yang berlaku. Hal inilah yang dapat menyebab kan relasi dengan orang lain menjadi terhambat. Peristiwa ini biasanya dikenal d engan istilah formalism.

Identitas vs Kekacauan Identitas Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa pube r dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Pencapaian identitas pribadi dan meng hindari peran ganda merupakan bagian dari tugas yang harus dilakukan dalam tahap ini. Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, ka rena melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengert iannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara ses eorang terjun ke tengah masyarakat. Lingkungan dalam tahap ini semakin luas tida k hanya berada dalam area keluarga, sekolah namun dengan masyarakat yang ada dal am lingkungannya. Masa pubertas terjadi pada tahap ini, kalau pada tahap sebelum nya seseorang dapat menapakinya dengan baik maka segenap identifikasi di masa ka nak-kanak diintrogasikan dengan peranan sosial secara aku, sehingga pada tahap i ni mereka sudah dapat melihat dan mengembangkan suatu sikap yang baik dalam segi kecocokan antara isi dan dirinya bagi orang lain, selain itu juga anak pada jen jang ini dapat merasakan bahwa mereka sudah menjadi bagian dalam kehidupan orang lain. Semuanya itu terjadi karena mereka sudah dapat menemukan siapakah dirinya . Identitas ego merupakan kulminasi nilai-nilai ego sebelumnya yang merupakan eg o sintesis. Dalam arti kata yang lain pencarian identitas ego telah dijalani sej ak berada dalam tahap pertama/bayi sampai seseorang berada pada tahap terakhir/t ua. Oleh karena itu, salah satu point yang perlu diperhatikan yaitu apabila taha p-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar atau tidak berlangsung secara baik, di sebabkan anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya diteng ah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya, inilah yang disebut dengan identity confusion atau kekacauan identitas. Akan tetapi di sisi lain jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingka n dengan kekacauan identitas, maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleran si terhadap masyarakat yang bersama hidup dalam lingkungannya. Erikson menyebut maladaptif ini dengan sebutan fanatisisme. Orang yang berada dalam sifat fanatis isme ini menganggap bahwa pemikiran, cara maupun jalannyalah yang terbaik. Sebal iknya, jika kekacauan identitas lebih kuat dibandingkan dengan identitas ego mak a Erikson menyebut malignansi ini dengan sebutan pengingkaran. Orang yang memili ki sifat ini mengingkari keanggotaannya di dunia orang dewasa atau masyarakat ak ibatnya mereka akan mencari identitas di tempat lain yang merupakan bagian dari kelompok yang menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau menerima d an mengakui mereka sebagai bagian dalam kelompoknya. Kesetiaan akan diperoleh sebagi nilai positif yang dapat dipetik dalam tahap ini , jikalau antara identitas ego dan kekacauan identitas dapat berlangsung secara seimbang, yang mana kesetiaan memiliki makna tersendiri yaitu kemampuan hidup be rdasarkan standar yang berlaku di tengah masyarakat terlepas dari segala kekuran gan, kelemahan, dan ketidakkonsistennya. Ritualisasi yang nampak dalam tahap ado lesen ini dapat menumbuhkan ediologi dan totalisme. Keintiman vs Isolasi Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memas uki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 ta hun. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang la in dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan a danya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pa caran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain . Di mana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti ada nya kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan

memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan tum buh sifat merasa terisolasi. Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptif ya ng muncul dalam periode ini ialah rasa cuek, di mana seseorang sudah merasa terl alu bebas, sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan mer asa tergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan sahaba t, tetangga, bahkan dengan orang yang kita cintai/kekasih sekalipun. Sementara d ari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan keterkucilan, yaitu kecender ungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk da ri kesendirian dan kesepian yang dirasakan. Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan denga n seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalam konteks teoriny a, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala bentuk perbedaan dan ke angkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang dimaksudkan di sini t idak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan dengan orang tua , tetangga, sahabat, dan lain-lain. Ritualisasi yang terjadi pada tahan ini yaitu adanya afiliasi dan elitisme. Afil isiasi menunjukkan suatu sikap yang baik dengan mencerminkan sikap untuk mempert ahankan cinta yang dibangun dengan sahabat, kekasih, dan lain-lain. Sedangkan el itisme menunjukkan sikap yang kurang terbuka dan selalu menaruh curiga terhadap orang lain. Generativitas vs Stagnasi Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh oran g-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Apabila pada tahap pertama samp ai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada masa in i dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimban gan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adala h kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan dapa t dicerminkan sikap memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang da pat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun. Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli, sehingga mereka tida k punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansi yang ada adalah penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baik dalam lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik. Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara ge nerativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik yait u kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan otoritisme. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan menyen angkan antara orang-orang yang berada pada usia dewasa dengan para penerusnya. S edangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa merasa memiliki kemampuan yang le bih berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta memberikan segala peraturan y ang ada untuk dilaksanakan secara memaksa, sehingga hubungan diantara orang dewa sa dan penerusnya tidak akan berlangsung dengan baik dan menyenangkan.

Integritas vs Keputusasaan Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki ole h orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Dalam teori Erikson, oran g yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap s ebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berup aya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. Tahap ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa ter asing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikso n terdapat integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan ole h karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, sikap in i akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang mana sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat. Kecenderungan terjadinya integritas lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan maladapti f yang biasa disebut Erikson berandai-andai, sementara mereka tidak mau menghada pi kesulitan dan kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan kecemasan lebih kuat dibandingkan dengan integritas maupun secara malignansi yang disebut dengan sikap menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumaph serapah da n menyesali kehidupan sendiri. Oleh karena itu, keseimbangan antara integritas dan kecemasan itulah yang ingin dicapai dalam masa usia senja guna memperoleh suatu sikap kebijaksanaan. PENUTUP Pada dasarnya pusat dari perumusan konsep Erikson meliputi beberapa bagian yang dianggap memiliki aspek penting seiring berjalannya roda dalam kehidupan manusia yaitu : 1. Identitas ego yang menurut Erikson berarti bahwa perkembangan setiap indiv idu adalah di dalam kerangka lingkungan dan budaya di mana setiap individu dapat menemukan dirinya yang sebenarnya. 2. Langkah-langkah guna mengembangkan psikososial yang epigenetik. Pada awaln ya teori Erikson bermula dari teori Freud mengenai psikoseksual namun kemudian d ikembangkan oleh Erikson ke luar dari pendapat tersebut dengan mempertimbangkan perkembangan ego dalam konteks psikososial. 3. Perkembangan hidup manusia pada dasarnya berawal atau beredar dari masa ba yi sampai masa usia senja/tua sesuai dengan delapan tahap perkembangan yang dike mukakan oleh Erikson. 4. Kekuatan ego, yang menandai masing-masing delapan langkah-langkah perkemba ngan manusia adalah kebaikan seperti harapan, akan tujuan dan kebijaksanaan (Chr istopher F.Monte, Beneath The Mask an Introduction of Theories of Personality). Sigmund Freud B. Teori Kepribadian Dalam mencoba memahami sistem kepribadian manusia, Frued membangun model kepriba dian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain. Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego dan superego. Meskipun memiliki ciri-ciri, p rinsip kerja, fungsi dan sifat yang berbeda, ketiga sistem ini merupakan satu ti m yang saling bekerja sama dalam memengaruhi prilaku manusia.

Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana si stem kerjanya dengan prinsip kesenangan pleasure principle, mencari pemuasan seger a impuls biologi.. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem ker janya pada dunia luar untuk menilai realita, menunda pemuasan sampai bisa dicapa i dengan cara diterima masyarakat dan berhubungan dengan dunia dalam untuk menga tur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filte r dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak (hati nurani;suara hati) s esuatu yang dilakukan oleh dorongan ego. Jadi, jelas bahwa dalam dalam teori psi koanalisis Frued, ego ini harus menghadapi konflik antara id ( yang berisi nalur i, seksual dan agresif yang selalu minta disalurkan). Menurut S. Hall dan Lindzey, dalam Sumadi Suryabarata, cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah: (1) apabila rasa id-nya menguasai sebahagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak primitif, im plusif dan agresif dan ia akan mengubar impuls-impuls primitifnya, (2) apabila r asa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertinda k dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa sup er ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bert indak pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang irrasional. Jadi untuk lebih jelasnya sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah: Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia it u dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari en ergi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, da n banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Seperti yang ditegaskan oleh A. Supratika, bahwa aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan p roses primer. Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai eksekutif yang memerintah, mengatur dan mengendalikan ke pribadian, sehingga prosesnya persis seperti polisi lalulintas yang selalu mengont rol jalannya id, super- ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan -kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar a dalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksana kan itu adalah kerja ego. Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filte r dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-ti dak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.

View more...

Comments

Copyright ©2017 itdaklak.info Inc.
SUPPORT itdaklak.info